p h o e b e .
Aku kira arti dari dipanggilnya namaku saat pemungutan hanyalah tangis dan tangis, nyatanya aku malah tertawa. Dengan lancangnya kugunakan waktu upacara pembukaan sebagai waktu melepas penat, sudah begitu yang jadi korban partnerku sendiri.
Sialnya, yang namanya arena tetap arena. Dan pada akhirnya aku harus menghadapinya.
Tidak ada waktu lagi untuk tertawa, saat masuk tabung saja aku merasa aku bukan diriku yang biasanya. Dan pada saatnya aku harus lari, aku merasa bodoh. Aku melambat, yang disebut iblis dari dua distrik teratas langsung menyerangku begitu saja.
Ternyata waktuku singkat sekali, ya. Dengan asal aku menujukan kata terakhir pada partnerku yang malang. Setidaknya, itu permintaan maaf yang membuatku lega. Karena setelahnya, di dunia yang selanjutnya…
…aku bisa tertawa lagi.


